Tuntut-lah Ilmu Setinggi Langit dan Seluas Samudra, krn Ilmu yang akan selalu menjaga kita. "Amin"
Animasi
Read more: http://infounixs.blogspot.com/2012/12/kumpulan-animasi-yang-lucu-dan-keren.html#ixzz2yWuhkr2p
Kamis, 10 April 2014
Penulisan Ilmiah (Pertemuan III; V; VI)
Penulisan Ilmiah (Pertemuan VI)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ..
Pada kesempatan kali ini sedikit berbagi kisah tentang perkuliahan penulisan ilmiah yang telah memasuki minggu ke-6. Hari ini senin 17 maret 2014, tepat pukul 07.00 perkuliahan seperti biasa akan segera dimulai. Seperti biasa pertemuan diadakan diruangan B209 gedung teknik elektro ITS. Hari ini saya agak sedikit telat (hehehe ^_^), padahal saya sebenarnya sering tepat waktu (hehehe ^_^), namun kali ini ada pemandangan berbeda dengan perkuliahan hari ini. Tak lain adalah padamnya lampu disebagian jurusan yang sudah berlangsung 2 hari yang lalu. Akibatnya rata-rata perkuliahan ada yang diliburkan. Ada pemandangan yang menarik dari kejadian ini, di mana kelas penulisan ilmiah sebelah pun berkumpul tepat di ruangan B209, alhasil koridor B209 yang sempit semakin bertambah sempit dengan sesaknya para mahasiswa yang berkumpul.
Pada kesempatan kali ini sedikit berbagi kisah tentang perkuliahan penulisan ilmiah yang telah memasuki minggu ke-6. Hari ini senin 17 maret 2014, tepat pukul 07.00 perkuliahan seperti biasa akan segera dimulai. Seperti biasa pertemuan diadakan diruangan B209 gedung teknik elektro ITS. Hari ini saya agak sedikit telat (hehehe ^_^), padahal saya sebenarnya sering tepat waktu (hehehe ^_^), namun kali ini ada pemandangan berbeda dengan perkuliahan hari ini. Tak lain adalah padamnya lampu disebagian jurusan yang sudah berlangsung 2 hari yang lalu. Akibatnya rata-rata perkuliahan ada yang diliburkan. Ada pemandangan yang menarik dari kejadian ini, di mana kelas penulisan ilmiah sebelah pun berkumpul tepat di ruangan B209, alhasil koridor B209 yang sempit semakin bertambah sempit dengan sesaknya para mahasiswa yang berkumpul.
Tak lama setelah 'acara' berfoto, prof. imam tiba di kelas dan memulai kuliah. Pada kesempatan kali ini kuliah dilaksanakan dengan penerangan alami, selain itu kuliah ini juga membahas tugas yang diberikan minggu lalu untuk membuat abstrak tugas akhir. Buku becoming the winner menjadi pedoman kami untuk mengkoreksi abstrak yang telah kami buat. Selain itu juga dibahas mengenai format judul yang harus dapat memikat pembaca.
Suasana perkuliahan ke-6 Penulisan Ilmiah oleh prof. Imam
Penulisan Ilmiah (Pertemuan V)
Kurang lebih jam 7.30 prof. Imam robandi tiba di kelas untuk memberikan kuliah, dan beliau membawa kita ke laboratorium power system and operation control (PSOC). Pada pertemuan ke-V ini, prof. imam memperlihatkan sebuah video ketika beliau mengikuti sebuah kegiatan. Prof Imam menceritakan pengalaman-pengalaman beliau selama mengikuti kegiatan itu.
Tugas terjemahan kembali diperiksa setelah kami melihat video yang prof.Imam perlihatkan. Pada proses revisi kali ini, tugas terjemahan ini masih terdapat kesalahan, yakni masih terdapat kata-kata bahasa inggris, baik itu keterangan gambar maupun rumus-rumus. Waktu pun tak cukup untuk menyelesaikan kegiatan perkuliahan kali ini dan perkuliahan akan kembali dilanjutkan pukul 15.00.
Pukul 15.00 perkuliahan dilanjutkan, pada kesempatan kali ini tak disangka blog kami diperiksa oleh masing-masing mahasiswa dan dinilai. Satu persatu blog kami dibuka dan dinilai isi dari blog kami. Terdiri dari 5 aspek penilaian yakni : nama blog, isi, format, update dan volume blog.
Tugas III Penulisan Ilmiah (Pertemuan III)
Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan kegiatan perkuliahan pertemuan ke III dari mata kuliah penulisan ilmiah. Pada kesempatan kali ini kami prof. Imam memberikan tugas untuk mentranslate sebuah buku bertemakan renewable energy. Pada kesempatan kali ini kami mengunjungi perpustakaan untuk memilih sebuah buku yang berhubungan dengan sistem tenaga untuk kami pilih sebagai bahan untuk dipelajari dan ditranslate ke bahasa indonesia.
Kamipun menuju lantai 5 perpustakaan umum ITS, namun tak menemukan buku terbitan 2010 ke atas. Setelah tak menemukan buku yang kami cari, kami pun menuju lantai 4 untuk menemukan buku yang kami cari. Dan akhirnya setelah ditelusuri kamipun menemukan buku terbitan 2011 tentang solar cell yang dipilihkan oleh prof Imam. Ada kurang lebih 17 bagian yang dibagikan kepada kami masing-masing. Dan saya mendapatkan halaman 225-243.
Prof. Imam Robandi, Si Dalang Pejuang ITS Muda
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 1
Imam
Robandi akan selalu disebut-sebut sebagai sosok yang getol menyelami
dunia seni. Meski Imam berdiri di tengah kampus dan jurusan yang
tersohor dengan teknologi, ia mampu menunjukkan seni sebagai suatu
bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Jiwa
seni yang sudah mengikuti aliran darahnya diperoleh dari sang ayah.
Bahkan, sang ayah yang tidak pernah meninggalkan aktivitas menyanyi
setiap harinya pun turut andil dalam kemahiran Imam melatih suara hingga
semerdu sekarang. “Kalau ayah nyanyi, ya pasti tertangkap telinga
saya jadi sekalian belajar,†ujarnya. Tak hanya itu, ayahnya juga
selalu menekankan pentingnya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal
tersebut memang terlihat jelas dari antusiasme Imam berbicara di depan
publik.
Jika
berbicara mengenai kemahirannya memainkan alat musik gamelan, maka sang
ibulah yang berjasa. “Saya sering dibawa ke kondangan dan di sana
selalu ada musik gamelan,†kenangnya. Pria kelahiran 17 Agustus 1963
ini pun berlatih dengan gigih termasuk memainkan wayang. Menakjubkan,
saat masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD) saja ia sudah jago
menjadi dalang kecil yang memiliki koleksi lengkap wayang kulit.
Sebagai
salah satu pendiri sanggar Elektro Budojo, Imam tak pernah melupakan
keahliannya ketika bertandang ke negeri sakura. Saat melanjutkan
pendidikan doktornya di Universitas Tottori, ia tak membuang kesempatan
mengenalkan budaya Indonesia di Jepang. Siapa sangka, ia membawa seluruh
koleksi wayang dan gamelan yang dimilikinya. “Lima belas menit saja,
saya dapat 50 ribu yen setara Rp 5 juta,†ucapnya kembali dengan tawa.
Selain
berkiprah di dunia seni dan pendidikan, delegasi Asia untuk
International Curriculum Conference ini juga seorang aktivis sosial dan
penulis. Terbukti, bukan hanya jurnal yang ia terbitkan, buku berjudul
The Ethos of Sakura baru saja berhasil diselesaikannya. Bahkan, ia pun
menjadi aktivis dakwah di masjid Manarul Ilmi ITS.
Sedang,
bila berbicara mengenai keahlian, ia termasuk pria dengan segudang
talenta. Mulai dari catur, berenang, memasak, fotografi, sampai bela
diri Shorinji Kempo dan Jiu Jitsu. “Saya suka Jiu Jitsu karena tidak
butuh power besar,†ungkapnya. Pasalnya, Imam memang dibesarkan di
lingkungan tentara pula. Karena banyak hal yang ia pelajari dari seni
dan budaya, ia pun berkeinginan mengakrabkan seni dengan ITS lewat
pencalonannya.
Jadikan ITS Yang Muda
Sebagai
bacarek yang gigih berkutat di dunia seni, Imam ingin menyelaraskan
seni dan teknologi di ITS. Sebagaimana yang ia ungkapkan dalam mottonya
"ITS yang Berilmu dan Berbudaya" yang disingkat "ITS yang Muda". Menurut
Imam, jika semua hal berangkat dari seni, maka semua hal pun bisa
dicapai.
ITS
memang tak bisa hanya mengandalkan teknologi dalam persaingan global.
“Kita harus punya budaya,†terangnya. Ia menyebutkan, yang dimaksud
budaya di sini tidak hanya sebatas kesenian tradisional ataupun modern,
melainkan berbagai hal yang bisa menjadi sorotan budaya. Misalnya saja,
lingkungan, paper, dan seni dalam arti yang sebenarnya.
Ia
berharap dapat mempercepat pertumbuhan ITS di segala hal. Baginya,
segala hal yang menjadi bagian dari ITS hendaknya dijadikan sebagai
kebiasaan. “Kita kan perlu menjadikan international recognition
academic sebagai atmosfer,†pungkasnya.
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 2
Sumber : Facebook Imam Robandi
MAYANGKARA BELA BANGSA
#################################
Hampir semua tamu yang datang mengatakan “imposible” kepada Musabangga yang telah sukses menyelenggarakan pentas Wayang Kulit dengan cerita Mayangkara Bela Bangsa. Bayangkan saja, pagelaran yang sangat besar hanya dikomandani anak-anak muda Ustadz Daryono, Ust Muakhor, dan kawan-kawan,yang agak semi bonex. Tamu berdatangan dari Wonosobo, Tegal, Banjarnegara, Yogyakarta, Banyumas, dan juga dari Kabupaten Tegal. Perpaduan musisi pengiring dari Purbalingga Selection dan dari Kabupaten Nganjuk terlihat sangat kompak. Musabangga telah menjadi pelaku sejarah, “wayangan dan penancapan tiang pancang The International Building Musabangga”. Semoga sejarah-sejarah berikutnya akan selalu terukir. MUSABANGGA adalah SD Muhammadiyah 1 Purbalingga Jawa Tengah yang telah menjadi salah satu pusat pertumbuhan sekolah Indonesia. Itu adalah sebagian karya dari anak-anak muda kreatif yang tidak mengenal lelah.
Gambattene sense..
Bersambung..
Sejenak Mengikuti Inspirator - Part 03-06
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 6
Great Event yang dihelat di Kraksaan ini adalah sangat istimewa karena tamu yang hadir dari berbagai kalangan, ada dari Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, PGRI, dan lain-lain. Di tempat ini saya sudah yang ke-tiga kali, pertama di tahun 2018 untuk Symposium Nasional. Seminar akbar kali ini mengangkat tema “Sekolah Modern, Sekolah Indonesia”, yang tidak lain adalah bebah-benah sekolah dari variabel. Di gedung ini pula saya pernah diundang oleh MUI sebagai keynote speaker di acara “Halaqoh Matsalut Tarbiyah” di 11 April 2012, sehingga gedung Islamic Center ini saya sudah merasa “naremashita”. Event kali ini memang terasa sangat beda, karena penyelenggaranya adalah sebuah sekolah dasar. Kita tidak dapat membayangkan bahwa sebuah sekolah dasar dapat mengadakan “seminar level nasional”, yang tamunya datang dari berbagai kabupaten dan propinsi. Diletakkan di sebuah gedung yang letaknya sangat stratejik, dan lingkungan kanan-kirinya sangat asri. Kraksaan yang terus membangun sebagai ibukota baru, Kraksaan yang telah lama memberi banyak kenangan.
Gambattene sense..
bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 5
Sebelum seminar akbar itu dimulai, saya sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo Kyai Fadlil dan beberapa tokoh Muhammadiyah yang lain. Beliau sangat bangga denganperkembangan sekolah-sekolahnya yang terus melaju dengan cepat. SD Muhammadiyah Kreatif sudah menjadi sekolah kebanggaan di Kabupaten Probolinggo, yang letaknya di Ibukota baru yaitu di Kraksaan. Saya masih ingat saat saya rapat pertama kali dengan Kyai Budiono SH untuk mendirikansekolah tersebut di tahun 2007, tidak terasa ternyata sekolah sudah meluluskan siswanya tahun lalu. Begitu juga sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kecamatan Pendil, sudah kelihatan dinamikanya, terutama sudah melahirkan seniman-seniman Tari Gulipang. Tari Gulipang pernah diperagakan oleh siswa-siswa dari Perguruan Muhammadiyah Pendil untuk mengisi Konferensi International APTECS di ITS, Surabaya, December 22, 2009. Semoga siswa-siswi kreatif terus lahir dan tumbuh di setiap sekolah Indonesia.
Gambattene sense..
bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 4
Invited Speaker yang diundang oleh Ustadz Ajuslan Kerubun untuk Seminar Akbar Probolinggo, 31 March 2014, adalah Ustadz Ahmad Said Matondang dari SD Muhammadiyah 5 Jakarta. Ahmad Said disamping dia datang sebagai pembicara undangan, dia adalah juga seorang pembaca Tilawah Qur’an International, yang suaranya sangat merdu. Islamic Center Probolinggo di hari itu digetarkan oleh suaranya dalam membaca Surah At Takwir dengan lagu Ros. Audiens sangat menikmati lantunan ayat-ayat Suci Al Qur’an dari suara ustadz Said. Invited Speaker yang lain adalah Ustadz Turrachman, Principal MUSAWERNA Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Dia sangat piawai dan memotivasi para audiens dengan materi “Oleh-oleh dari Jepang”. Gayanya yang inovatif dan rileks telah membuat peserta seminar “manggut-manggut”. Ustadz Said Matondang dan Ustadz Turrachman di hari itu benar-benar menjadi bintang karena presentasinya yang sangat inovatif mewarnai. Betul-betul telah lahir kader muda untuk bangsa.
Gambattene sense..
Bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 3
Acara di Islamic Center, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, 31 March 2014 adalah sangat bersejarah. Judulnya sangat bagus “Sekolah Modern, Sekolah Indonesia”. Yang sangat “amazing” adalah bahwa seminar akbar itu dikomandani oleh Ustadz Ajuslan Kerubun, anak Ambon, yang etosnya tanpa batas. Dia adalah Principal SD Muhammadiyah Kreatif Probolinggo di Kraksaan. Ilmu nekadnya hampir mirip dengan Ustadz Daryono Principal Musabangga Jawa Tengah. Pendek kata Ajuslan Kerubun adalah tokoh sentral dibalik kesuksesan Seminar Akbar di hari senin itu. Memang ini adalah ciri khas pekerjaan anak-anak muda, sedikit acak-acakan, tetapi sukses. Menjemput saya di rumah pukul 02,00 pagi hari, mau dimampirkan di Rawon Nguling, tetapi masih belum buka. Tamu event itu yang sangat banyak telah membuat Ustadz Ajuslan dapat tersenyum lebar di akhir acara. Betul-betul sukses. Sebuah acara yang telah menjadi sejarah, dan telah mengangkat seorang Ajuslan Kerubun yang asli Pulau Seram dan juga teamnya yang sangat solid menjadi para petarung dan pejuang sejati. Itu adalah sebuah langkah stratejik yang mengandung seribu makna. Terompet musik "Gulipang" dari Kecamatan Pendil telah menjadi penggugah semangat para peserta seminar. Sukses Brother Ajuslan, you are a pioneer.
Gambattene sense...
Bersambung...
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 7
Betul-betul kebetulan. Setelah acara Seminar Akbar di Kraksaan selesai, ustadz Ridho atau di Facebook sering muncul sebagai Kung Ridho mengajak saya untuk menengok sekolah yang baru didirikannya dan belum sempat dilaunching. Para donatur dan funder sudah berada di tempat menunggu kami saat itu. Mereka sudah pada sepuh-sepuh, tetapi semangatnya betul-betul amazing. Bayangkan saja, mereka tinggal di Jember, datang ke Kecamatan Lumbang di kaki Gunung Bromo hanya ingin ngobrol tukar menukar pikiran dan pengalaman dengan saya. Ini sungguh sangat istimewa karena saya menjadi tambah ilmu dan wawasan. Sekolah ustadz Ridho ini betul-betul di kampung dan di kaki Gunung, yaitu di desan Ketangi. SD Muhammadiyah Ketangi dengan kanan-kiri yang alam asli, dan ditunjang udara sejuk, InsyaAllah akan menjadi tempat belajar siswa yang sangat menyenangkan. Guru-gurunya yang sudah dimagangkan di SDM 4 Pucang Surabaya dan betul-betul sudah siap tempur, begitu juga ruang kelasnya dan taman bermainnya yang sangat representatif adalah sebuah tanda-tanda keseriusan Ustadz Ridho dan kawan-kawan dalam menyiapkan sekolah berkualitas. Pendatang baru di Kabupaten Probolinggo ini, semoga akan menghiasi percaturan persekolahan di tanah air di masa-masa yang akan datang.
Gambattene sense..
Bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 8
Memanjat pohon duren betul-betul akhirnya menjadi kenyataan. Di episode 6 ini saya sengaja ingin menuruti para tamu yang betul-betul minded. Apalagi Lereng Bromo sangat terkenal dengan duren-duren berkualitas. Di ketinggian 700 meter DPL, duren sangat menunjukkan kualitas buahnya secara optimal. Setelah mampir di SD Muhammadiyah Ketangi, saya harus pindah tempat ke Taman Durian “Waturiti Duren Park”, milik pak Bambang Sugeng. Ada dua hektar kebun duren disitu, dan semua pohon berbuah, dan kita dapat memanjat pohon sendiri untuk memetik langsung. Ustadz Ajuslan, ustadz Ahmad Said, ustadz Turrachman, dan tuan rumah ustadz Ridho ternyata jago banget makan duren. Saya mencoba untuk menaikki pohon duren yang tinggi itu, tetapi juga was-was kalau ada duren yang jatuh. Karena satu pohon lebih dari 20 buah bergelantungan. Saya sempat nyicipi satu biji, wow..memang betul rasanya, export qualiti. Dari jalan raya Surabaya –Banyuwangi belok kanan 14 km menuju Gunung Bromo. Saya senang sekali melihat ustadz Turrachman dan ustdz Said balapan lahap makan duren-duren lereng Bromo itu, mungkin karena jarang manemukan duren selezat itu sebelumnya. Disediakan teh manis, teh tawar, wedan jahe suhu, dan kopi anget. Setelah pamitan, ternyata duren dan semua pernaik-perniknya dinyatakan “gratis”. Sekali sumur hidup memanjat pohon duren. Wow..amazing taste of Mount Bromo. You give us spirit.
Gambattene sense..
Bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 09 - 11
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 11
Sumber : Facebook Imam Robandi
BANJARNEGARA (epidode 5)
Masih ada sisa dongeng perjalanan, saat itu sebelum saya masuk di Banjarnegara. Perjalanan 27 March 2014, Thursday, dari Adisucipto Airport menuju Kabupaten Banjarnegara sangat mengispirasi. Saya ditemani driver anak muda mas Budi, dan Principal MUSABARA (Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Sarwodadi Banjarnegara) ustadz Sumono. Pertama kali saat itu saya bertemu ustadz Sumono yang masuk Arrival Gate Adisucipto dengan wajah berseri-seri sambil agak bingung dikit-dikit. Kelihatan kalau dia itu kurang gaul dengan arrival gate bandara Jogja itu, tetapi saya melihat wajahnya bahwa dia adalah seorang fighter sejati yang siap tanding menghadapi medan dengan tingkat kesulitan apapun.
BANJARNEGARA (epidode 5)
Masih ada sisa dongeng perjalanan, saat itu sebelum saya masuk di Banjarnegara. Perjalanan 27 March 2014, Thursday, dari Adisucipto Airport menuju Kabupaten Banjarnegara sangat mengispirasi. Saya ditemani driver anak muda mas Budi, dan Principal MUSABARA (Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Sarwodadi Banjarnegara) ustadz Sumono. Pertama kali saat itu saya bertemu ustadz Sumono yang masuk Arrival Gate Adisucipto dengan wajah berseri-seri sambil agak bingung dikit-dikit. Kelihatan kalau dia itu kurang gaul dengan arrival gate bandara Jogja itu, tetapi saya melihat wajahnya bahwa dia adalah seorang fighter sejati yang siap tanding menghadapi medan dengan tingkat kesulitan apapun.
Lepas Kota Jogja, saya diberi ceramah
oleh beliau selama perjalanan dengan materi ”bagaimana memelihara
sekolah agar dapat selalu bergetar walaupun lokasinya di Kecamatan
Pejawaran mendekati Puncak Gunung Dieng, porosnya Pulau Jawa, yang letak
desa itu lebih dari 1700 m dari permukaan air laut. Ini adalah semangat
yang tidak banyak dimiliki oleh para kepala sekolah di tanah air, pikir
saya saat itu. Kelihatan kalau dia adalah bukan orang yang mudah
mengeluh, dan juga kelihatan kalau ustadz Sumono adalah orang yang tidak
bosan dengan rasa capek. Dia juga banyak bercerita tentang para kepala
sekolah yang sukses. Perjalanan melewati Muntilan, Mendut, Borobudur,
Kepil, Kretek, Wonosobo, yang jalannya berkelok-kelok,
"gronjal-gronjal", dan sulit ditebak, dan akhirnya masuk Banjarnegara
yang Gilar-gilar dan endah permai.
Saat di
Desa Mendut Magelang mampir sebentar di kedai Delo, milik Mas Marwan.
Bebek bakar dengan arang yang sangat fua-fua membuat rasa dan bumbu
berbaur sedap. Saya juga baru tahu kalau kepala bebek juga dapat
dimasak, apalagi sambil membakar dan ngipasi sendiri. Udara sejuk malam
hari di sekitar candi Mendut itu telah membuat aroma bebek bakar itu
menjadi sangat marketable, membuat perut ”ngos-ngosan”. Wow.., asap
terbang kemana-kamana. Kenyang duluan, setelah banyak menghirup asap
aroma rica-rica. Bara api arang yang memerah, menghangati tubuh sambil
kipas-kipas bakar bebek,menjadi sejarah yang sulit untuk terlupakan.
Gambattene sense..
Bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 10
Sumber : Facebook Imam Robandi
Ustadz Aris Purbalingga, yang membawa saya dan ustadz Aris Nganjuk (maaf ada double Aris) untuk kuliner mengelilingi Purbalingga dan sekitarnya. Saat itu juga mampir ke SD Muhammadiyah UMP, tetapi "sedang tidak bertuan" saat itu, hanya seorang sekuriti. Sampai di Purwokerto panen "sisa-sisa rambutan", sayang tidak ada gambarnya. Thanks Mas Aris berdua (Aris Purbalingga dan Aris Nganjuk)
Ustadz Aris Purbalingga, yang membawa saya dan ustadz Aris Nganjuk (maaf ada double Aris) untuk kuliner mengelilingi Purbalingga dan sekitarnya. Saat itu juga mampir ke SD Muhammadiyah UMP, tetapi "sedang tidak bertuan" saat itu, hanya seorang sekuriti. Sampai di Purwokerto panen "sisa-sisa rambutan", sayang tidak ada gambarnya. Thanks Mas Aris berdua (Aris Purbalingga dan Aris Nganjuk)
Kata Ustadz Aris Purbalingga ""Inspirasi Perjalanan Purbalingga - Purwokerto dari Profesor yang satu ini memang LUAR BIASA. Obrolan sepanjang jalan mulai dari bagaimana mendidik anak sesuai umurnya, ide membuat jalan layang di Purbalingga sampai dengan motivasi-motivasi strategis memajukan Sekolah/Madrasah yang membuat pikiran ini menari nari merangkai mimpi...perjalanan tambah asyik dengan mampir ke sebuah warung di Silado kec. Sumbang untuk menikmati ketupat+mendoan+tahu goreng+mendoan jagung dan teh hangat...thanks profesor, semoga Allah SWT selalu melindungimu dan sehat selalu.""
Catatan:
Ini adalah warung kecil langganan favorite saya, pada saat mudik ke
Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, dan Kebumen. So
differentiative so delicious.
Gambattene sense..
Bersambung..
Sejenak Mengikuti Sang Inspirator - Part 9
Setiap saya ada perjalanan ke arah timur, Rawon Nguling menjadi prioritas. Kata banyak orang Presiden Yodhoyono pernah mampir di situ. Terletak di Desa Nguling, antara Pasuruan dan Probolinggo. Saya sudah menjadi pelanggan setia Rawon Nguling mulai baru lulus insinyur di tahun 1990, yang saat itu sedang pekerjaan listrik masuk desa di Kabupaten Banyuwangi. Ini adalah pusatnya Rawon Jawa Timur, dan king of taste dari segala rawon. Pasangannya adalah tempe goreng khusus dan telor asin. Hangatnya yang sangat “fua-fua”, perpaduan antara kluwak dengan cambah hijau, teh anget, dan lingkungan sejuk yang sangat mendukung menjadikan rumah makan ini sangat positioning. Rawon Nguling, just only one, yaitu perpaduan balancing antara daging dengan lada yang sedikit “semreset”, kluwak hitam yang beraroma pawon. Wo.., a super taste.
Gambattene sense..
Bersambung...
Langganan:
Postingan (Atom)
























